Tampilkan postingan dengan label Pengelolaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengelolaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Maret 2006

SISTEM PERKANDANGAN ITIK PETELUR


Di Indonesia masih banyak ternak itik dipelihara secara tradisional yaitu dengan mengembalakan itik di sawah atau di tempat-tempat yang banyak air. Dengan semakin sempitnya areal pengembalaan dan banyaknya kasus kematian ternak akibat keracunan pestisida, maka pemeliharaan cara ini makin terancam kelestariannya.
Salah satu usaha yang dipandang mampu mengatasi masalah ini adalah dengan mengalihkan sistem pemeliharaan dari sistem tradisional ke sistem intensif yaitu dengan cara beternak itik tanpa air atau di kandangkan, ini lebih menguntung­kan karena kesehatan dan keselamatan itik lebih terjamin. Selain itu, produktivitas telur lebih tinggi serta biaya pemeliharaan lebih efisien.
Banyak penelitian membuktikan bahwa itik tidak mutlak membutuhkan air untuk berenang. Terbukti bahwa pemeliharaan itik secara intensif dan terkurung dapat mencapai produksi yang optimal yaitu sebanyak 203 butir/tahun/ekor, sedangkan yang digembalakan hanya menghasilkan telur sebanyak 124 butir/tahun.
Syarat Perkandangan
Kandang merupakan tempat kediaman ternak dan dari kandang tersebut, ternak memperoleh manfaat. Agar pembuatan kandang tersebut benar-benar menghasilkan manfaat yang sebesar­-besarnya bagi itik, maka diperlukan pengetahuan tentang perkandangan antara lain:
1.Kandang harus dapat memberikan kenyamanan bagi itik, artinya tidak menyebabkan itik gelisah dan mudah terkejut.
2.Kandang harus memberikan kesehatan bagi itik yang ada di dalamnya (tingkat kematian itik dalam kandang rendah).
3.Kandang yang dibangun harus memberi­kan hasil bagi peternak berupa telur yang lebih banyak daripada pemeliharaan tanpa kandang.
4.Dalam membangun kandang hendaknya tidak mengganggu peternak dan keluarganya. Sebaliknya keluarga peternak juga tidak mengganggu itik tersebut.
5.Kandang yang dibangun itu harus memenuhi syarat ekonomis, artinya tidak terlalu mahal tetapi memenuhi syarat di atas.
Jenis Kandang
1.   Kandang Itik Sistem Terkurung
Kandang ini sesuai bagi itik komersial untuk produksi telur konsumsi. Lantai kandang dapat terbuat dari tanah yang dipadatkan, bagian atas dilapisi kapur dan barulah diletakkan alas berupa kulit padi atau bekas serutan gergaji. Kelemahannya adalah bila alas kandang basah karena tumpahan air minum, agak sulit untuk membersihkan dan mengeringkannya terutama pada daerah yang kelembaban­nya terlalu tinggi, hal ini akan menyebabkan timbulnya penyakit.
2.   Kandang Itik Sistem Pekarangan
Kandang itik sistem ini merupakan kombinasi antara terkurung dengan sistem lepas. Lantai kandang padat yang dilapisi sekam padi. Atap kandang yang cocok adalah atap satu muka dengan lubang angin di atasnya. Pada pekarangan yang disediakan itulah terdapat tempat pakan dan minuman itik. Sedikit pelindung akan berguna melindungi itik dari teriknya matahari dan hujan. Sekitar pekarangan dibuat pagar dengan tinggi � 75 cm.
3.   Kandang Itik Sistem Baterai
Kandang sistem ini mirip sekali dengan kandang baterai untuk ayam petelur yaitu kandang individual. Semua kandang baterai dikumpulkan pada satu tempat dan diberi atap serta dindingnya dipagar dengan bambu anyaman atau kawat.
Kandang yang Ideal
Kandang yang diarahkan ke timur dengan maksud untuk memberikan kesempatan sinar matahari pagi masuk ke dalam kandang, dengan demikian diharapkan ruangan kandang menjadi sehat dan cukup terang. Tinggi kandang dibuat tidak kurang dari 2 meter, sehingga peternak tidak perlu membungkukkan badan pada saat melakukan pekerjaan di dalam kandang. Dinding kandang sebaiknya ditutup tembok/bambu setinggi 60 cm dari lantai, sedangkan sisanya dibiarkan terbuka cukup ditutup dengan kawat atau bilah-bilah bambu.
Hal lain yang menjadi penentu ideal tidaknya kandang yang kita dirikan adalah luasan kandang serta daya tampungnya. Sebagai patokan tiap satu meter persegi kandang bisa didiami dengan 4 ekor itik dewasa (umur > 6 bulan) dengan rumus sebagai berikut:
Jumlah itik yang akan dipelihara
=
Luas kandang yang
4diperlukan (m2)
atau
Panjang kandang (m) X lebar (m) X 4 = Jumlah itik yang dipelihara
Sumber: LIPTAN BPTP JAKARTA,  No.:06/LIPTAN/BPTP JKT/2001

Usaha Peternakan Meri

Usaha peternakan meri terbagi atas usaha penetasan telur bebek yang menghasilkan meri, dan kedua adalah usaha pembesaran atau peternakan meri. Menurut Drs. Arsidi, Ketua Kelompok Tani Ternak Itik “Rambon Sejati” di Cirebon, Jawa Barat, kedua usaha ini sama-sama menguntungkan. Perbedaan usaha ini, ternak meri membutuhkan lokasi yang cukup luas, sedangkan usaha penetasan dapat dilakukan dilahan yang terbatas. Selain itu usaha ini juga bisa dilakukan keluarga dirumah, jadi benar-benar usaha home industry.

Yang dimaksud dengan meri adalah anak bebek dari menetas sampai usia 1 bulan, atau belum menjadi bebek. Pembesaran meri jantan menghasilkan bebek pedaging dan meri betina yang dibesarkan menghasilkan telur bebek.

Seperti diakui oleh Drs. Arsidi, banyak sekali permintaan akan bebek, yakni dari daging dan telurnya. Tingginya permintaan akan bebek pedagingyang begitu besar juga terlihat dari beberapa rumah makan, restoran dan warung tenda yang menawarkan bebek sebagai menu unggulan sehingga membuat harga bebek melambung tinggi.

Karena melonjaknya harga bebek terutama untuk bebek tua yang dijual setelah masa pembesaran 6 bulan, kini beberapa dari rumah makan atau restoran ada yang beralih menggunakan bebek muda. Sebut saja Sugeng, pemilik warung tenda Joko Putra dikawasan Pasar Blok A Jakarta Selatan dimana selain bebek tua ia juga memakai bebek muda yang usianya 3-4 bulan. Pertimbangannya adalah harganya yang lebih murah dan proses memasaknya juga lebih cepat, dan juga permintaan dari konsumen juga cukup tinggi.

Bebek jantan dewasa atau pedaging harganya sekitar Rp. 25 ribu–30 ribu per-ekor dan bebek betina siap telur, atau yang biasa disebut bebek bayah harga jualnya Rp. 45 ribu-50 ribu. Harga ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan bebek muda atau meri yang dibesarkan dari usia 45 hari hingga 3 bulan. Sedangkan menurut Nur Ihsan, peternak dan pengepul bebek muda/meri dari Mojokerto, harga dari peternak untuk usia 45 hari dengan berat 1 kg/ekor Rp. 16.500, 60 hari berat 1,2 kg/ekor Rp. 22 ribu, dan berat 1,5 kg/ekor Rp. 27 ribu pada usia 3 bulan.


Prospek

Prospek ternak pembesaran meri menjadi bebek muda ini akan terus meroket. Seperti yang diungkapkan Dody Faizal, Ketua Kemitraan Ternak Bebek Desa Sadar Mojoanyar, pertenak di Mojokerto Jawa Timur baru saja memenuhi permintaan sebesar 90% untuk pasar Surabaya, Mojokerto, Jakarta dan Bali.

Dengan semakin besarnya pemintaan bebek muda, maka permintaan meri yang akan dibesarkan menjadi bebek muda atau disebut juga DOD (Day Old Duck) juga semakin tinggi. Namun menurut Drs. Arsidi penetas meri atau penghasil DODO masih terbilang sedikit. Di Jawa Barat misalnya sentra penghasil DOD adalah di Desa Kroya dan Karanganyar Cirebon. Dari Desa Kroya baru bisa memenuhi kurang dari 50% permintaan. Desa Kroya baru bisa memasok rutin DOD untuk daerah Sumatera Selatan, Muara Enim Palembang, Jambi, Lampung, dan Jakarta Utarasebanyak 20 ribu ekor/minggu. Ada juga pelaku usaha yang memasok ke  daerah Medan dan Padang.

Sedangkan untuk sentra pembesaran meri menjadi bebek muda ada didaerah Karawang, Cirebon, Brebes, dan Mojokerto. Di Mojokerto yang terkenal adalah bebek Mojosari, karena salah satu sentra ternak bebek di Mojokerto terdapat di Kecamatan Mojosari. Di Kab. Mojokerto ini juga terdapat beberapa kelompok tani ternak bebek. Salah satu yang terkenal adalah kelompok tani ternak bebek Lestari Jaya yang terletak di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari. Jumlah anggota kelompok tani ternak bebek tersebut berjumlah 42 orang semuanya wanita. Produk yang dihasilkan oleh kelompok tani ternak bebek tersebut adalah telur bebek, DOD, dan telur asin.

Suhu

Untuk usaha penetasan meri sebenarnya bisa dilakukan dimana saja/segala daerah di Indonesia namun tetap memperhatikan suhu alat penetas dengan baik, yakni suhu sekitar 38 derajat celcius dan kelembaban sekitar 60%. Beberapa daerah yang berpotensi untuk usaha penetasan telur bebek yaitu daerah Indramayu, Tegal, Subang, Lampung, Bengkulu, Palembang, pelosok Banjarmasin, dan Timika. Begitu juga untuk usaha peternakan meri yang sangat penting diperhatikan adalah suhu. Meri lebih menyukai tempat hidup yang hangat, seprti daerah sepanjang Pantura,. Untuk beternak meri sebaiknya berada pada suhu 33-35 derajat celcius. Daerah ternak meri di Indonesia yaitu wilayah Cirebon, Mojosari, Karawang, Bali, dan Kalimantan Selatan.

Menurut Drs. Arsidi, supaya suatu daerah benar-benar sukses dalam usaha bebeknya, perlu adanya konsep “segitiga bebek”, yaitu pertamaterdapat kelompok ternak, kedua terdapat koperasi untuk pemasarannya, dan ketiga adanya kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Jadi jika ada masyarakat yang ingin mempelajari seluk beluk usaha bebek mulai dari penetasan telur hingga cara ternaknya, Kelompok Tani Ternak Itik “Rambon Sejati” siap memberikan ilmu berupa materi dan praktek usaha.

Usaha pembesaran meri sangat menguntungkan karena memeliharanya sangat mudah ketimbang ayam. Pertama dari segi pakan meri bisa menggunakan apa saja yang paling penting mengandung karbohidrat seperti roti kadaluarsa, mie kadaluarsa, keong, dan kepala udang. Kedua, dari segi pemeliharaan bebek tidak mudah terkena penyakit. Yang terakhir dari faktor kandang, perternak dapat menggunaka terpal untuk atap kandang dan pagar untuk badan kandang. Sedangkan untuk DOD (meri) usia 1 hingga 15 hari cukup diberi penghangat dengan lampu neon dan kandang diberi alas jerami atau bisa juga menggunakan kandang panggung, yaiut kandang yang pagarnya dari bambu dan lantainya dari kawat ram yang jaraknya dari tanah sekitar 100 cm.

Pemasaran

Alur pemasaran usaha penetasa didaerah Cirebon, yakni telur dapat dibeli dari beberapa penduduk setempat, kemudian ditetaskan. Meri tersebut lalu dijual kebandar atau langsung ke konsumen/perorangan. Harga telur yang tidak dipilih berdasarkan kondisinya Rp. 1.000/butir, sedangkan yang sudah dipilih dan benar0benar bagus Rp. 1.300/butir. Untuk harga meri jantan yang baru menetas usia 0 hari Rp. 2.500/ekor, sedangkan yang betina Rp. 5.000/ekor (lebih mahal karena bisa menjadi bebek petelur). Harga dibandar hanya berbeda Rp. 200-300/ekor. Biaya produksi terbilang cukup sedikit, karena tidak perlu pakan dan tempat yang luas.

Sedangkan untuk alur distribusi pembesaran meri menjadi bebek muda di daerah Mojokerto yaitu ada dua alur. Pertama perternak besar yang juga seorang pengepul menjual langsung ke restoran atau rumah makan dengan harga dari peternak untuk usia 45 hari dengan berat 1 kg/ekor Rp. 16.500, 60 hari berat 1,2 kg/ekor Rp. 22 ribu, dan dengan berat 1,4 kg/ekor hingga 1,5 kg/ekor Rp. 27 ribu pada usia 3 bulan. Atau langkah kedua bebek dijual ke pengepul 1, pengepul 2, supplier besar. Setelah itu baru dipasarkan ke restoran atau warung tenda. Untuk sistem pemasaran ini harga bebek muda di peternak relatif lebih murah sehingga harga jual ke konsumen lebih tinggi. Biasanya harga bebek muda/meri dari peternak selisihnya Rp. 1.000 lebih murah dibanding harga jual dari pengepul atau supplier besar.

Kendala

Permasalahan yang dihadapi kelompok tani ternak meri untuk mengembangkan usaha ini umumnya dalah kurangnya modal usaha, terbatasnya sarana pengolahan, dan kurangnya pengetahuan serta keterampilan peternak dibidang pengolahan daging.

Hal lainnya yang kadang menjadi masalah dalam usaha penetasan telur bebek menjadi meri biasanya biasanya terkait dengan keteledoran peternak, seperti terlambat atau lupa membalik posisi telur, bahan bakar minyak habis, ataupun air untuk uapnya habis. Untuk mengatasinya tentu butub kesadaran pribadi atau dengan pembagian tugas secara disiplin.

Sedangkan pada usaha pembesaran meri, menurut Tukiran, peternak pembesaranmeri dan pengepul bebek muda di Desa Sadar Tengah Mojoanyar Mojokerto, untuk usaha pembesaran meri kendala lebih banyak pada penentuan harga yang sudah dipatok oleh pengepul.

Pakan Itik Fase Grower dan Layer

Kontribusi pakan memang hanya sekitar 30% dalam keberhasilan usaha ternak, akan tetapi salah dalam menerapkannya juga tidak sedikit kerugian yang akan diderita. Pernah suatu ketika datang pertanyaan pada kami untuk komposisi pakan itik petelur yang hanya di beri dedak jumlah sekitar 4 kg dan ikan/kepala ikan dengan jumlah sedikit (0.5 kg). Kami rasa para pembaca sudah bisa menebak, bagaimana produksi telur yang akan dihasilkan itik tersebut. Untuk itu mungkin perlu kami tampilkan berbagai formulasi pakan ternak itik yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber (buku, hasil penelitian, dan komunikasi langsung dengan peternak). Semoga hal ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan kami juga mempunyai harapan kepada pembaca semua yang mempunyai pengalaman di bidang formulasi pakan itik untuk berbagi pengalaman di sini. Semoga dengan berbagi pengalaman (ilmu) dan orang lain mendapatkan manfaat dari pengalaman kita, kiranya hal itu dicatat oleh Allah swt sebagai amal kebaikan dan berhak untuk mendapatkan pahala di sisinya. Aamiin…

Formulasi pakan itik untuk masa grower (umur 2-5 bl) :
Jumlah pemberian 88 - 120 gram/ekor/hari sesuai tingkatan umur. Sebagai patokan adalah jumlah  Protein Kasar (PK) 16-20%, dan Energi Metabolis (EM) 2900 Kkal/kg.
  1. Jagung 20%, dedak 20%, menir 15%, kedelai 15%, bungkil kelapa 5%, tepung ikan 10%, tepung darah 10% dan tepung tulang 5%
  2. Jagung atau dedak atau menir 50%, kacang tanah, bungkil kelapa atau kacang kedelai 15%, cacahan ikan teri atau bekicot 25%, mineral 5%, dan sisanya adalah campuran vit B12, premix dan daun singkong
  3. Jagung giling 45%, bekatul 15%, bungkil kelapa 5%, kedelai 15%, tepung daun lamtoro 5%, tepung ikan 10% rumput kering 2%, tepung kerang 2%, tepung tulang 1% dan sedikir garam
  4. Jagung 20%, konsentrat 10%, bekatul 60%, dan eceng gondok 10%


Formulasi pakan itik untuk layer (5 bl ke atas) :
Jumlah pemberian minimal 150 gram/ekor/hari, tidak lupa untuk memberikan hijauan segar dan mineral. Sebagai patokan adalah jumlah Protein Kasar (PK) 15-18% dan Energi Metabolis (EM) 2900 Kkal/kg.
  1. Bekatul 15%, beras merah 30%, jagung giling 10% kacang hijau giling 12%, tepung ikan 20%, kedelai giling 3%, bungkil kelapa 5% tepung tulang 4,5% dan garam 0,5%
  2. Bekatul 6 kg, konsentrat itik layer 3 kg, dan jagung 6 kg
  3. Bekatul 6 kg, konsentrat itik layer 1,5 kg, ketam cincang 1,5-2 kg, dan jagung giling 6 kg
  4. Dedak kasar 25%, jagung giling 25%, kacang kedelai giling 15%, bekicot cincang 15%, tepung ikan 10%, garam 5% dan tepung daun singkong 5%
  5. Bekatul 5 kg, nasi kering 7 kg, ece 1 kg, cacahan ikan pirik 15 kg
  6. Bekatul 2,6 kg, bekatul 8,3 kg, dan ikan pirik giling 10,6 kg
  7. Bekatul 6 kg, nasi kering 6 kg, konsentrat itik layer 4 kg, ikan kecil 12 kg
  8. Bekatul 6 kg, menir 6 kg, ikan rucah 8 kg
  9. Bekatul 4.8-5 kg, menir 4 kg, konsentrat itik layer 3 kg dan ikan rucah 2 kg
  10. Bekatul/dedak dan konsentrat itik layer dengan perbandingan (6:1)
  11. Nasi kering : jagung : konsentrat itik layer dengan perbandingan (4:1:1)
  12. Bekatul : konsetrat itik layer dengan perbandingan (4:1)
  13. Konsentrat itik layer : konsentrat ayam petelur : dedak dengan perbandingan (2:5:8)
  14. Konsentrat itik layer 60%, jagung 15%, kremis 15%, dan eceng gondok 10%
  15. Bekatul 60%, jagung 20%, dan konsentrat itik layer 20%
  16. Bekatul 2.5 kg, konsetrat itik layer 1,5 kg, gandum 8 kg, dan hijauan 0.7-1 kg


Perlu diketahui bersama bahwa kestabilan dan produktivitas itik sangat ditentukan oleh ketepatan dalam pemberian jumlah pakan yang meliputi kandungan nutrisi dan kualitas pakan. Tidak ada salahnya untuk mencoba salah satu komposisi di atas, asal ketersediaan pakan dan harganya pun murah di sekitar lokasi kita. Atau anda punya komposisi pakan tersendiri dan mau berbagi dengan peternak lainnya? Kirimkan komposisi formulasi pakan itik petelur anda pada kami dan insyaallah kami pun akan memuatnya di sini. Mari berbagi dan jalin kebersamaan tuk meraih kesuksesan.


Mengenal ITIK PEKING

Itik peking berasal dan dikembangkan pertama kali di daratan Tientsien, Cina. Itik peking kali pertama didatangkan dari Cina ke Amerika Serikat pada tahun 1870. Popularitasnya sebagai itik penghasil daging telah menyebar ke seluruh dunia, baik di belahan bumi utara maupun selatan, termasuk di daerah tropis. Itik peking memiliki badan yang lebih kompak di bandingkan dengan beberapa jenis itik lainnya.Dalam bidang pembibitan, itik peking banyak disilangkan dengan itik jenis lain guna untuk memperbaiki penampilan keturunannya. Jenis itik yang sering disilangkan dengan itik peking di antaranya itik alyesbury. Untuk daerah Indonesia sendiri, itik ini banyak disilangkan dengan jenis itik kaki Campbell, mojosari dan jenis itik lainnya. Hasilnya pun tidak perlu diragukan lagi, akan tetapi perlu usaha penelitian lagi lebih lanjut untuk pengembangannya.Kapasitas produksi telur itik peking dapat mencapai 110-130 butir per tahun.  Jumlah produksi telur ini termasuk tinggi untuk jenis itik pedaging. Telur itik peking biasanya juga memiliki daya fertilitas yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan seekor pejantan itik peking mampu mengawini 5-6 ekor betina dengan tingkat fertilitas yang cukup memadai pula. Itik peking pertama kali bertelur sekitar umur 6 bulan.

Karkas itik peking berwarna kuning dan kelihatan sangat menarik. Tekstur dagingnya juga sangat bagus. Kalau anda pesan menu masakan daging itik di restoran atau hotel berbintang kebanyakan yang disajikan adalah daging itik peking karena kekhasan warna, rasa, dan bentuknya. Persilangan dengan itik alyesbury menghasilkan keturunan dengan tekstur daging yang lebih bagus lagi.

Berikut spesifikasi bentuk standar itik peking jantan dan betina :
  1. Kepala : agak besar dengan crown (pial) yang tinggi, bagian depan crown tersebut agak terangkat ke atas, seolah-olah terangkat dari rahang atas. Pipinya tampak penuh dan berisi
  2. Paruh : relatif pendek tetapi tebal karena kulmen yang tinggi dan membulat. Warna orange cerah dengan ujung paruh agak putih
  3. Mata : tampak liar dan siaga, tetapi agak terlindung olah alis yang menonjol dan pipi yang berisi, warna mata kebiruan
  4. Punggung : sekitar 65% lebih panjang dari lebarnya, namun demikian tampak agak pendek karena bagian ekor terangkat ke atas, serta rump (tungging) yang menebal, sedangkan bagian depan punggung rata
  5. Ekor : terangkat, lebat menyebar, dan cukup panjang
  6. Badan : berimbang antara panjang dan lebar, relatif kekar, berdaging dan penuh. Tanpa kesan adanya keel. Dada lebar, perut besar dan penuh, tetapi tidak terjatuh
  7. Kaki : kuat dan tidak terlalu panjang, warna merah-orange
  8. Bulu : lebar dan fluffy terutama pada bagian posterior, warna putih-krem sampai krem
  9. Penampilan : antara 35-40 dari garis horizontal, hidup dan agile atau ringan dalam pergerakan
  10. Berat standar : jantan dewasa 4,5 kg dan betina dewasa 4 kg


Itulah beberapa ciri dan bentuk standar dari itik peking, semoga bisa menjadi pedoman bagi anda yang hendak membeli ternak ini agar terhindar dari oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab.

Mengenal Ternak Enthok

Kalau kita sering jalan-jalan ke pasar burung, pasar tradisional, atau tempat pemotongan unggas, seringkali kita jumpai ternak enthok. Ternak yang bernama latin Chairina Moschata, atau sebutan lain seperti Muscovy Duck,Barbary Duck, itik manila ini memang sudah tidak asing lagi ditelinga kita karena memang salah satu ternak lokal yang lebih dimanfaatkan sebagai penghasil daging yang cukup potensial. Keberadaannya ada sellau di sekitar kita, akan tetapi kita belum mampu mengangkat citranya dan mengusahakannya secara lebih professional.

Pangsa pasar enthok bisa dikatakan cukup baik untuk saat ini terutama untuk daerah-daerah yang terkenal dengan warung atau rumah makan yang menyajikan menu kuliner andalan dari daging enthok. Misalnya di daerah Kudus terkenal dengan masakan sweeke enthok, di Indramayu terkenal dengan masakan pedesan enthok, di Tambak-Banyumas terkenal dengan masakan sate dan gule bebek (yang sebetulnya adalah sate dan gule enthok), di Klaten terkenal dengan masakan rica enthok, di Jogja terkenal masakan slenget (semur enthok), demikian juga kebanyakan bebek goreng atau pecel bebek pada warung pecel lele Lamongan tepi jalan di banyak kota sebetulnya adalah enthok goreng. Sementara itu di Tegal juga terkenal dengan masakan kupat blengong, ketupat yang disajikan dengan daging dari blengong atau brati, yaitu hasil persilangan antara enthok dengan itik petelur (tiktok).

Untuk lebih menyakinkan anda bahwa peluang beternak enthok masih cukup menjanjikan, berikut akan kami berikan gambaran sisi kelebihan dan kekurangan dalam beternak komoditi yang satu ini :

Sisi kelebihan :
  • Tingkat konsumsi pakan enthok lebih sedikit dibandingkan dengan itik, tapi kalau dihitung konsumsi pakan total sampai umur panen (dengan asumsi berat sama antara enthok vs itik) maka bisa dikatakan hampir sama juga.
  • Moment tertentu seperti lebaran kemaren harga enthok terutama enthok jantan bisa tembus di harga Rp 120.000/ekor, padahal pada hari-hari biasa paling bisa laku antara Rp 60.000 - Rp 75.000/ekor nya
  • Daging enthok lebih tebal sehingga pada waktu dimakan lebih terasa dan aroma dagingnya juga tidak setajam daging itik
  • Pemasaran yang mudah, karena hampir setiap pedagang/pengepul keliling atau juga pasar tradisional mau menerima enthok
  • Hasil sampingan beternak enthok adalah bulunya yang bisa dipakai shuttle cock (40-50 hari sekali dicabuti)
  • Dari segi penyakit enthok lebih kuat dan tahan daripada ayam
  • Enthok merupakan pengeram terbaik saat ini, sehingga apabila anda mempunyai telur yang pada saat pengeraman di tinggalkan induknya, atau kejadian induknya mati mendadak maka telur tersebut bisa dititipkan pada enthok.


Sisi kekurangan :
  • Laju pertumbuhan enthok lebih lambat dibandingkan dengan itik sehingga panennya juga lebih lama.
  • Bibit enthok (DOD) memang lebih susah didapat karena masih mengandalkan pengeraman secara alamiah, sehingga kadang umur DOD yang tersedia juga beragam antara 1-4 hari
  • Harga DOD enthok jauh lebih mahal dibandingkan dengan DOD itik
  • Pada umur 1-10 hari (umur dod) tingkat kematiannya lebih tinggi dibandingkan dengan itik, mortalitas masih dianggap baik apabila tidak lebih dari 10%


Enthok termasuk dalam kelas burung yang mempunyai ukuran sedang sampai agak besar. Berat enthok jantan umur 6 bulanan bisa mencapai 3 kg, sedang yang betina 2 kg pada pemeliharaan ekstensif (umbaran). Sedangkan pada peliharaan secara intensif (terkurung) berat yang jantan bisa mencapai berat 5 kg dan yang betina 3 kg pada umur yang sama. Warna bulu enthok dominan putih semua atau dominan hitam sedikit putih atau kombinasi yang seimbang antara putih dan hitam. Enthok memiliki tonjolan kulit berwarna merah disekitar paruh yang biasa disebut karankula. Bentuk paruh gemuk tapi pendek, warna putih agak kemerahan. Kaki pendek dan gemuk, serta terdapat selaput renang diantara jari dengan warna abu-abu kehitaman. Ekor pipih, mendatar dan agak lebar.

Meskipun pandai terbang, enthok peliharaan hampir tidak pernah terbang jauh. Tapi jangan sekali-kali anda sesudah menyembelih lantas membiarkan begitu saja karena bisa jadi enthok yang telah anda sembelih hilang entah ke mana. Enthok hidup secara berkelompok, kalau berjalan terlihat nyantai, tidak pernah terlihat tergesa-gesa. Gerakan ekor bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk mengimbangi tubuh (megal-megol=jawa) sehingga terlihat atraktif. Pada pemeliharaan ekstensif di perdesaan enthok jarang dikandangkan sehingga tidurnya pun disembarang tempat seperti di bawah pohon, di bahwa pohon pisang, di emperan rumah atau tempat lainnya. Enthok dibiarkan hidup bebas berkeliaran mencari makan sendiri di sungai-sungai, di sekitar saluran air, dan areal persawahan. Pakan alami enthok berupa aneka siput, cacing, serangga air, yuyu kecil dan pucuk-pucuk tumbuhan (rumput dan lain-lain). Pada pemeliharaan semiintensif, enthok cukup diberi pakan dedak dicampur sisa-sisa makanan kita atau limbah dapur.

Enthok tidak berisik (mengeluarkan suara), tidak seperti itik terutama itik petelur. Enthok betina mengeluarkan desisan dan desahan ketika sedang berjalan. Enthok jantan kadang-kadang mengeluarkan desisan keras sambil menggerak-gerakkan kepalanya maju mundur (nyosor=jawa), untuk memperingatkan atau mengusir pengganggu. Enthok betina mampu bertelur hingga 15 butir bahkan lebih, kemudian mengerami telurnya selama 5 minggu. Periode mengeram enthok bisa dimaksimalkan sampai 2-3 kali. Enthok memiliki sifat ‘ngambek’ kalau telurnya diambil atau ketika pada waktu mengeram terganggu. Semoga bermanfaat.

Sumber : www.sentralternak.com

Peternakan Itik Model Angon

Kalau kita melintas suatu daerah yang terdapat hamparan persawahan dan usai dipanen padinya, biasanya kita melihat tenda-tenda berdiri di tengah sawah. Tenda-tenda tersebut bukanlah tenda milik anak pramuka atau tim SAR, melainkan tenda milik peternak itik yang sedang menggembalakan itiknya di tengah areal pesawahan yang dikenal dengan model angon. Pemeliharaan model angon bisa di bagi menjadi 2 yaitu, model angon musiman yaitu periode angon ditentukan oleh ketersediaan pakan yang ada. Setelah ketersedian pakan di suatu tempat habis maka itik akan dipindahkan ke tempat lain yang ketersediaan pakannya masih melimpah. Siang dan malam itik berada di sekitar kemah yang didirikan oleh peternak.  dan yang ke dua yaitu model angon harian yaitu periode angon pada waktu siang hari saja, sedang di waktu sore itik sudah dikandangkan kembali di rumah peternak.

Beragam alasan yang akan kita peroleh kalau kita bertanya kepada pemiliknya akan manfaat yang diperoleh kalau kita menerapkan model angon. Padahal tidak tanggung-tanggung pengorbanan yang dikeluarkan oleh si empunya itik terutama untuk model angon musiman diantaranya mesti tidur di sawah siang dan malam untuk menjaga itiknya agar tidak bercampur dengan itik peternak lainnya dan agar itiknya tidak dicuri orang lain. Akan tetapi hal itu tidaklah menjadi beban karena memang itu sudah menjadi profesinya. Kalaupun kita berusaha untuk memberi wacana model beternak itik di kandang (intensif) tidak akan banyak memberi arti bagi mereka. Berikut beberapa alasan mengapa orang memelihara itiknya dengan cara di angon :

Alasan pertama yaitu mereka ada yang ingin menghasilkan telur itik alami. Memang benar telur yang dihasilkan dari model angon bisa dikatakan 100% alami (bahasa kerennya organic). Itik tidak tersentuh bahan kimia sedikitpun, baik untuk pakan atau zat aditifnya. Telur yang dihasilkan murni berasal dari bahan pakan yang diperoleh di sekitar persawahan usai panen seperti rontokan padi, katak-katak kecil, cacing, belalang dan lain sebagainya.

Alasan ke dua yaitu kualitas telur yang dihasilkan lebih bagus dari pada hasil pemeliharaan di kandang. Coba anda bandingkan kualitas kuning telur dan bau amisnya antara telur yang dihasilkan dari pemeliharaan model angon dengan telur yang dihasilkan dari pemeliharaan di kandang. Telur itik hasil angon juga aman untuk orang yang mengalami penyakit tertentu seperti penderita alergi dan yang lainnya. Untuk telur tetas juga tak kalah baiknya, karena di alam bebas terutama di rawa-rawa, kubangan air, sungai-sungai kecil merupakan media kawin yang baik bagi itik.

Alasan ke tiga yaitu itik-itik yang ada sedang mengalami masa rontok bulu (tidak berproduksi). Pada saat itik mengalami rontok bulu bisa dibilang produksi telurnya bisa sampai 0%, artinya kalau kita menerapkan model pemeliharaan di kandang, biaya pakan yang dikeluarkan tiap harinya tentu bisa dihitung sedangkan pendapatan saat itu Rp 0,-. Sehingga salah satu cara yang bisa ditempuh agar beban usaha tidak terlalu tinggi adalah itik digembalakan secara angon baik secara musiman atau harian.

Alasan ke empat yaitu biaya pakan tinggi atau harga pakan mengalami kenaikan. Ini adalah alasan dari peternak yang bisa dibilang kurang memperhitungkan manajemen usaha yang diterapkan. Memang, kalau kita beternak itik petelur dengan tingkat produktifitas telur hanya 50-60% per hari maka bisa dibilang usaha yang sedang kita jalankan hanya balik modal saja alias pendapatan hari itu hanya cukup untuk membeli pakan saja akhirnya peternak mencoba model angon. Kalau lah memilih model angon dengan dengan kualitas itik yang sedang bertelur ‘sama’ maka hasilnya tentu tidak jauh berbeda.

Alasan ke  lima yaitu dari segi harga telur, pada umumnya harga telur hasil angon lebih tinggi daripada telur dari itik yang dikandangkan. Meskipun hanya beda Rp 100-200/butir, akan tetapi kalau setiap hari kita bisa panen telur 150 butir tentu bukan selisih yang sedikit. Harga yang lebih tinggi sudah dimaklumi oleh konsumen pasalnya kualitas telur yang lebih bagus. Akan tetapi bagi yang akan memulai cara ini (angon) anda harus memperhitungkan juga waktu yang telah anda luangkan (24 jam di sawah) dengan selisih keuntungan yang akan diperoleh.

Alasan ke enam yaitu karena hoby. Nah yang ini tidak bisa dijadikan ukuran karena hoby setiap orang tentu berbeda-beda. Ada yang melakukannya karena tiap hari bisa ketemu temannya yang seprofesi, atau karena stasus yang punya itik ‘duda’ sehingga tidak ada tanggungan di rumah atau juga ingin ganti suasana baru dengan tidur di sawah dan beragam alasan lainnya.

Setelah anda sedikit punya wacana beternak itik secara angon, maka kesimpulannya ada pada diri kita masing-masing. Mana yang terbaik bagi kita tentu kita sendirilah yang mengetahuinya dan memutuskan hal itu. Semoga bermanfaat.

Beberapa Pilihan Usaha dalam Peternakan Itik

Beternak itik bagi sebagian orang terasa lebih menjanjikan daripada beternak unggas jenis lainnya. Pertama, produk yang dihasilkan yaitu telur terasa lebih ‘dihargai’ sebab penjualannya dihitung bijian bukan kiloan sebagaimana halnya telur ayam ras. Ke dua, cara pemeliharaan dan perawatan yang relatif mudah serta lebih tahan terhadap penyakit. Ke tiga jumlah permintaan telur yang terus naik dari tahun ke tahun. dan Ke empat yaitu permintaan akan daging konsumsi juga tinggi.

Dari gambaran di atas sebenarnya masih ada ruang atau kesempatan yang sangat luas untuk memulai usaha ini. Akan tetapi timbul masalah bagi pemula yaitu dari mana memulai usaha ternak itik? Apa sebaiknya beternak itik untuk menghasilkan telur saja, apa beternak itik untuk menghasilkan DOD, atau usaha pembesaran DOD, atau penetasan? Nah berikut gambaran singkat tentang beberapa pilihan usaha dalam menjalankan bisnis ini.

Ada beberapa pilihan dalam menentukan langkah memulai usaha :

1. Mengkhususkan usaha untuk menghasilkan telur tetas. Untuk menghasilkan telur tetas yang baik ratio jantan dan betina adalah 3-5 pejantan untuk 50-100 ekor itik betina. Di sarankan terdapat kolam di dalam kandang untuk aktifitas berenang itik agar terjadi proses kawin secara alami. Telur itik yang sudah terkumpul di tetaskan dengan bantuan mesin penetas karena naluri mengeram itik sangat rendah atau bahkan tidak ada. Bisa juga dengan bantuan jasa menthok, akan tetapi hal ini akan menambah biaya lagi untuk pemeliharannya. Lama penetasan baik dengan mesin penetas atau menthok ± 28 hari. Lama penyimpanan telur tetas yang baik adalah kurang dari 7 hari.

2. Usaha penetasan, yaitu menetaskan telur itik menjadi DOD (Day Old Duck). Karena lama penetasan yang lebih panjang dari pada telur ayam maka perlu pertimbangan lagi untuk memulai usaha ini. Ada dua hal yang penting dalam memulai usaha ini yaitu bagaimana cara mendapatkan telur tetas yang baik dan memilih mesin penetas. Anda bisa membuka artikel kami lainnya untuk penjelasan ke dua hal tersebut. Keuntungan dalam usaha ini akan berlipat apabila begitu DOD menetas langsung dapat terjual, kalau tidak maka perlu biaya tambahan untuk memelihara DOD untuk beberapa jangka waktu beberapa hari. Kami menyarankan bagi peternak pemula untuk mencari relasi yang dapat dipercaya sebagai penyuplai telur tetas karena menyangkut nama baik usaha yang akan kita rintis. Sekali citra usaha kita buruk maka agak sulit untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Lebih aman kalau kita memiliki pembibitan (breeding) sendiri untuk menjaga kualitas dan kontuinitas usaha.

3. Pembesaran DOD untuk dijadikan pedaging. Beberapa tahun terakhir usaha ini sudah banyak mendapat perhatian dari para investor. Pada umumnya DOD yang dijadikan sebagai pedaging adalah DOD jantan. Kenapa? Di samping harga bibitnya lebih murah juga kelebihan tingkat pertumbuhan dan perkembangan tubuh yang lebih cepat jika dibandingkan dengan betina. Masa pemeliharaan yang relatif singkat yaitu sekitar 2 – 3 bulan juga menjadi daya tarik tersendiri. Untuk para pemula yang akan terjun dalam bisnis ini harus pandai-pandai berhitung soal pakan karena fluktuasi harganya yang gampang berubah.

4. Usaha pembesaran DOD sampai menjelang bertelur (bayah). Bayah adalah sebuatan itik betina siap bertelur yang berumur kira-kira 4-5 bulan. Biasanya system pemeliharaan bayah lebih banyak digembalakan karena di samping untuk lebih menekan biaya pakan juga untuk memberi kesempatan itik untuk berburu pakan alami kesenangannya seperti cacing, ikan-ikan kecil dan juga sebagai sarana exercise agar tubuh tidak kegemukan sehingga dapat menghambat produksi nantinya. Setelah itik sudah menandakan tanda-tanda akan bertelur maka itik bisa ditawarkan kepada calon pembeli. Ada satu trik saat menjual bayah yaitu usahakan menjual bayah ketika itik sudah mulai bertelur dan itu akan membawa ke harga jual yang lebih yang tinggi. Kita bisa menaikkan harga sampai Rp 500,- per ekor dan kita bisa bayangkan kalau bayah yang kita jual per minggu ada 100 ekor???

5. Usaha beternak itik untuk di ambil telurnya. Usaha ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Peternak bisa memeliharanya dari semenjak DOD atau langsung membeli itik siap bertelur (bayah). Keuntungan kalau kita memelihara sejak DOD adalah kita tahu tingkah laku ternak yang kita perlihara sehingga kita lebih paham akan kondisi ternak. Akan tetapi ada juga sisi kelemahannya yaitu butuh kesabaran waktu dan modal karena kita terus mengeluarkan uang sejak DOD sampai itik-itik tersebut mulai bertelur. Adapaun sisi kelebihan kalau kita membeli langsung dari bayah adalah kita akan langsung dapat memetik hasilnya dalam waktu dekat. Sisi kelemahannya yaitu butuh modal yang besar, dan juga kesiapan mental untuk menghadapi stress yang tinggi karena perpindahan lokasi dan juga perbedaan penanganan ternak.

Sumber : sentralternak.com

Jumat, 24 Maret 2006

Isu-Isu Seputar Peternakan Ayam Pedaging

Ayam pedaging juga dikenal sebagai ayam 'broiler'. Baru-baru ini, ayam pedaging telah dibiakkan untuk tumbuh dengan sangat cepat sehingga menghasilkan daging yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Saat ini, ayam-ayam pedaging siap disembelih pada usia minimal 5 minggu, padahal 50 tahun yang lalu ayam pedaging bisa disembelih sekitar usia 12 minggu.
Isu-isu kesejahteraan pada ayam pedaging
Situasi di dalam kandang intensif (peternakan modern)
Kebanyakan ayam pedaging dipelihara dalam jumlah besar, tertutup, di beberapa bangunan-bangunan; dimana suhu, pencahayaan buatan, ventilasi, makanan dan air semuanya dikontrol untuk memastikan bahwa ayam berkembang dalam waktu yang singkat. Jerami-jerami di lantai yang berfungsi untuk menyerap kotoran biasanya tidak dibersihkan sampai ayam siap untuk disembelih.
Udara di sekitar kandang dapat menjadi sangat tercemar dengan amonia dari kotoran. Hal ini dapat merusak mata ayam dan sistem pernapasan mereka dan juga dapat menyebabkan luka bakar yang menyakitkan di kaki dan cakar mereka.
Ayam yang terkurung dalam kandan berjeruji ini tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan mereka untuk menghindari panas, dingin atau kotoran seperti pada ayam-ayam yang dipelihari secara alami/organik.
Di dalam kandang tersebut suhunya bisa menjadi sangat panas, apalagi di musim panas. Jika sistem ventilasi gagal, ribuan burung bisa mati karena stres akibat kepanasan.
Tingkat pertumbuhan
Ayam pedaging telah diseleksi secara genetik untuk bisa tumbuh dalam waktu yang cepat. Rentang waktu dari awal ayam tersebut menetas hingga disajikan di rak-rak supermarket hanya dalam lima minggu saja. Kenaikan berat badan yang sangat cepat dapat menyebabkan masalah kesehatan yang parah, seperti lumpuh dan cacat jantung. Kami percaya bahwa keturunan genetik yang tumbuh lebih lambatlah yang sebaiknya diterapkan, sehingga tidak terjadi masalah kesejahteraan.
Ayam pedaging juga telah diseleksi dan dibiakkan untuk tumbuh cepat sehingga menghasilkan daging sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Biasanya diperlukan waktu 5-6 minggu untuk mencapai berat badan ayam yang diinginkan, yakni sekitar 2.2-2.5 kilogram. Mereka kemudian ditangkap, ditempatkan dalam peti dan diangkut ke rumah jagal/pemotongan/penyembelihan hewan.
Kandang yang terlalu padat/sesak
Metode produksi peternakan modern/intensif biasanya menempatkan ayam pedaging pada kondisi kandang yang dipenuhi dengan ayam-ayam dalam jumlah berlebih sehingga ayam-ayam tersebut tidak bisa mengekspresikan perilaku alaminya.
Ayam-ayam dalam kandang yang penuh sesak tersebut, akan merasa terganggu atau terinjak-injak oleh ayam lainnya saat mereka butuh beristirahat. Kebebasan ruang semakin berkurang seiring ayam-ayam tersebut tumbuh lebih besar dan bisa menemui kesulitan untuk mencapai makanan dan minumannya jika mereka lumpuh. Mereka juga tidak dapat mengais-ngais makanan sesuai perilaku alaminya. Kondisi kandang yang terlalu padat/ sesak ini juga cenderung menyebabkan lebih banyak polusi udara, stres karena kepanasan meningkat, dan kotoran yang membusuk.
Pencahayaan
Tingkat pencahayaan biasanya diukur dalam satuan 'lux'-misalnya, ruang yang terang benderang adalah sekitar 400 lux, dan cahaya matahari alami berkisar antara 30.000 sampai 100.000 lux. Sebaliknya, kebanyakan ayam pedaging dipelihara dalam tingkat cahaya sekitar 10 lux saja. Pada tingkat cahaya yang rendah ayam menjadi kurang aktif dan menyebabkan kepincangan dan kelainan mata.
Ayam pedaging juga ada yang dipelihara dengan pencahayaan tingkat rendah dan diterangi hampir secara terus menerus karena hal ini mendorong ayam-ayam untuk tetap makan dalam waktu yang lebih lama sehingga dapat tumbuh dengan cepat. Ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kualitas hidup ayam pedaging menjadi buruk jika tidak diberi kesempatan periode gelap yang tepat.
Pengayaan lingkungan
Sebagian besar ayam dalam peternakan intensif/modern tidak memiliki kesempatan dalam lingkungannya yang memungkinkan mereka untuk melakukan perilaku alaminya seperti bertengger dan investigasi.
Sebuah lingkungan yang memberikan simulasi dan rangsangan pada ayam akan mendorong mereka menjadi lebih aktif sehingga dapat membantu mengurangi penyakit kaki. Ayam-ayam yang hidup di lingkungan yang diperkaya (misalnya, berisi jerami, ada tenggeran, dan benda-benda untuk dipatuk), mereka memiliki kesempatan untuk lebih banya berjalan dan berlari, dan tidak terlalu banyak duduk jika dibandingkan dengan ayam-ayam yang hidup di lingkungan tanpa pengayaan.
Penangkapan, transportasi dan penyembelihan
Sebelum diangkut untuk disembelih, ayam broiler biasanya kekurangan makanan selama berjam-jam. Penangkapan, pengangkutan dan transportasi bisa menyebabkan stres, memar dan luka-luka lainnya.
Di rumah pemotongan/penyembelihan hewan, ayam biasanya digantung kakinya (kepala di bawah) dalam keadaan sadar, terlihat menyakitkan, apalagi umumnya mereka menderita penyakit kaki. Ayam-ayam tersebut biasanya dikejutkan/dibuat pingsan dengan dicelupkan (kepalanya dulu) ke dalam air beraliran listrik sebelum tenggorokan mereka dipotong. Usaha untuk mengejutkan/membuat pingsan ini sering tidak efektif karena kadang-kadang ayam-ayam tersebut berusaha mengangkat kepalanya dan terhindar dari air beraliran listrik tersebut. Ini artinya para ayam dalam kondisi sadar sepenuhnya saat tenggorokannya dipotong.
Alternatif kesejahteraan yang lebih tinggi
Ayam free range (bebas berkeliaran) dan organik (ayam yang tumbuh secara alami) memiliki akses untuk memperoleh udara segar dan ruang hijau. Lingkungan dapat ditingkatkan dengan menambahkan pohon-pohon dan semak-semak untuk berlindung dan tempat tinggal bagi ayam.
Ayam pedaging free range (bebas berkeliaran)
Pada sistem ini, ayam-ayam bisa berkeliaran bebas di luar ruangan pada siang hari dan masuk ke dalam kandang pada malam hari. Ayam free range tumbuh lebih lambat dari ayam pedaging di peternakan intensif. Mereka juga hidup lebih lama, setidaknya 56 hari. Di Uni Eropa, setiap ekor ayam harus diberi satu meter persegi ruang terbuka.
Dengan sistem ini, manfaat yang bisa diperoleh adalah tingkat pertumbuhan yang normal dan adanya kesempatan bagi ayam untuk mengekspresikan perilaku alaminya seperti mematuk, mencakar, mengais-ngais makanan, dan menggerakkan tubuhnya dengan bebas di luar ruangan, serta udara segar dan cahaya matahari. Karena mereka tumbuh lebih lambat dibandingkan ayam pedaging intensif dan memiliki kesempatan untuk menggerak-gerakkan tubuhnya dengan bebas, ayam free range memiliki kaki dan kesehatan jantung yang lebih baik dan kualitas hidup yang jauh lebih tinggi.
Ayam organik
Pada sistem organik, ayam-ayam juga bebas berkeliaran atau free range. Ayam organik pertumbuhannya lebih lambat, berkembang biak secara lebih alami dan biasanya hidup sekitar 70 hari. Tingkat pertumbuhan mereka setengah kali lebih lambat daripada ayam intensif. Ayam organik diberikan akses luar ruangan yang lebih besar (minimal 2,5 meter persegi).
Kesejahteraan di dalam ruangan yang lebih tinggi
Ayam-ayam ditempatkan di dalam ruangan yang lebih luas (sekitar 12 sampai 14 ekor per 1 meter persegi). Mereka memiliki lingkungan yang diberikan lebih banyak pengayaan: diberikan pencahayaan alami dan alas jerami untuk mendorong perilaku alami ayam seperti mengais-ngais makanan dan bertengger. Yang terpenting, ayam-ayam memiliki tingkat pertumbuhan yang sedikit lebih lambat dibandingkan ayam peternakan intensif/modern.

Senin, 20 Maret 2006

HERBAL LELE

Manfaat dan kegunaan herbal lele telah banyak dirasakan oleh para pembudidaya lele, khususnya bagi rekan-rekan pembudidaya lele yang baru menjalankan usaha ternak lele. Herbal lele sendiri sebenarnya memiliki banyak jenis dan sebutan, sekarang ini telah banyak pihak yang memproduksi herbal lele, baik secara individu, lembaga atau perusahaan. Masing-masing produk herbal lele biasanya memiliki ciri dan kelebihan, namun pada dasarnya semua produk itu memiliki kesamaan yaitu berbahan dasar alami, atau dengan kata lain komposisi yang digunakan dalam proses pembuatan ramuan herbal lele tersebut adalah seratus persen terbebas dari campuran bahan kimia sehingga relatif lebih aman untuk digunakan.

Ditinjau dari segi fungsi atau kegunaan herbal lele dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a.    Herbal Lele Yang Diaplikasikan Pada Air Kolam
Herbal lele jenis ini biasanya digunakan para pembudidaya sebagai proses awal persiapan air kolam, dengan tujaan agar terciptanya kondisi air yang lebih baik sehingga dapat menjadi media yang optimal untuk tumbuh kembang ikan lele yang dibudidayakan, seperti yang telah banyak diketahui oleh para pembudidaya lele, awal permasalahan terjangkitnya penyakit pada ikan lele, sebagian besar faktor penyebabnya adalah karena persiapan air yang kurang baik oleh sebagian para peternak lele, sehingga mencegah dengan cara mempersiapkan kondisi air yang memenuhi syarat, sangat jauh lebih baik dari pada harus mengobati ikan lele yang sudah terlanjur sakit.

Aplikasi herbal lele pada air kolam bisa juga digunakan untuk mengobati ikan lele yang sakit, herbal yang dilarutkan pada air kolam diharapkan mampu menekan atau membunuh bakteri dan penyakit merugikan yang terdapat di dalam air kolam atau yang telah menyerang ikan lele .

b.    Herbal Lele Yang Dicampurkan Pada Pakan
Sesuai dengan jenisnya, herbal lele jenis ini biasa digunakan dengan cara mencampurkan dengan pakan lele yang akan diberikan, kandungan herbal lele jenis ini juga secara keseluruhan berasal dari tumbuh-tumbuhan yang biasanya sering digunakan sebagai obat untuk manusia, karena pada prinsipnya tumbuhan herbal apa saja yang berguna dan bermanfaat untuk mengobati manusia biasanya bisa juga digunakan untuk mengobati hewan, yang terpenting penggunaanya harus tepat dan sesuai aturan.

Seperti keterangan di atas, ragam dan jenis herbal lele yang telah diproduksi banyak sekali, tujuannya juga bermacam-macam, ada yang bertujuan komersil ataupun  non komersil, namun yang terpenting bagi para pembudidaya lele adalah solusi atau cara penanggulangan penyakit lele , pada kesempatan kali ini kami akan coba memaparkan tata cara pembuatan salah satu herbal lele yang bisa diaplikasikan pada air kolam, adapun bahan-bahan dan komposisi yang digunakan adalah sebagai berikut :

~ Air Bersih                 : Lima (5) Liter
~ Daun Pepaya           : Sepuluh (10) Lembar, disarankan daun pepaya jantan/gandul
~ Daun Sirih                : Sepuluh (10) Lembar
~ Daun Ketapang        : Sepuluh (10) Lembar
~ Daun Jawer Kotok   : Sepuluh (10) Lembar
~ Arang kayu              : Dua (2) Kilo gram
~ Kotoran Kambing    : Tiga (3) Kilo gram, disarankan kotoran kambing basah atau becek karena bercampur dengan air kencing (Jangan yang bulat-bulat).

Cara pembuatan herbal lele ini cukup mudah, rendam saja bahan-bahan tersebut di atas menjadi satu pada wadah kkhusus yang telah disiapkan, misalnya ember atau drigen, lalu biarkan atau diendapkan selama dua minggu. Setelah dua minggu cairan herbal lele ini baru bisa digunakan, cara penggunaanya adalah :

Campurkan 4 (empat) tutup botol aqua (+ 20cc) cairan herbal lele dengan 5 (lima) liter air, tambahkan dengan 2 (dua) sendok garam dapur, setelah dilarutkan, komposisi cairan herbal lele tersebut bisa segera diaplikasikan pada kolam lele berukuran 10m2, dengan cara menebarkan larutan herbal lele secara merata pada permukaan air kolam. Jika anda memiliki kolam dengan ukuran lebih besar, tinggal disesuaikan saja dosis penggunaannya, pemberian herbal lele ini biasanya diberikan pada awal persiapan air kolam pada segmen pembesaran atau untuk kolam indukan, waktu pemberiannya bersamaan dengan proses pengomposan.

ini hanyalah salah satu dari sekian banyak resep herbal lele, jika diantara pembaca memiliki resep lain atau pendapat yang lebih baik seputar obat atau herbal lele, sangat dinantikan kontribusi dan partisipasinya sehingga dapat berguna dan bermanfaat bagi para pembaca, khususnya para pengusaha ternak lele atau para pembudidaya lele yang masih baru, salam sukses…

Minggu, 19 Maret 2006

HATI-HATI BAHAYA OBAT HEWAN ILEGAL

oleh: Drh Abadi Soetisna MSi

Definisi obat hewan ilegal secara singkat adalah karena obat hewan ini tidak mempunyai Nomor Registrasi yang dikel uarkan oleh Deptan RI yang sekarang disebut Kementan (Kementerian Pertanian). Dulunya o bat hewan ilegal dikenal dengan istilah OTT atau Obat Tidak Terdaftar, tapi bukannya berarti “Obat Tahu sama Tahu” loh.

Salah satu yang menjadi alasan kenapa obat Hewan itu harus terdaftar adalah supaya obat hewan yang beredar di Indonesia “dijamin” oleh Pemerintah bahwa obat tersebut telah memenuhi semua persyaratan yang diatur. Persyaratan tersebut diantaranya yaitu :
Obat hewan harus Aman untukHewan, Manusia, dan Lingkungan; Obat hewan harus mempunyai Efikasi atau Kemanjuran sesuai dengan tujuan penggunaannya; Obat hewan harus mempunyai Kualitas sesuai dengan standar produksinya.

Sebuah produk obat hewan dikatakan dijamin oleh Pemerintah adalah karena telah memenuhi persyaratan baik secara administrasi dan melalui penilaian oleh Panitia Penilai Obat Hewan (PPOH) dan Komisi Obat Hewan (KOH). Secara Teknis obat hewan harus sesuai dengan formulasi dan tujuan penggunaannya dan secara Kualitas telah melalui pengujian di Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH).

Ada beberapa alasan mengapa keberadaan obat hewan ilegal sulit diberantas. Yaitu karena: 1) Harga obat hewan ilegal lebih murah karena tidak melewati prosedur birokrasi yang benar, 2) Obat hewan ilegal lebih cepat laku, karena tanpa melalui proses pendaftaran yang katanya lama dan rumit, dan 3) Klaim penggunaan (indikasi) yang bombastis dan memukau sehingga menarik peternak untuk menggunakannya.

Apa Bahayanya Obat Hewan Ilegal
Penggunaan obat hewan ilegal dapat membahayakan, karena selain obat ini tidak dijamin oleh Pemerintah, isinya juga tidak diketahui karena tidak melalui proses pengujian di Laboratorium sehingga khasiatnya patut dipertanyakan.

Secara lebih luas bahaya penggunaan obat hewan ilegal dapat dijabarkan sebagai berikut:
Berbahaya terhadap hewan, artinya penggunaan obat jenis tertentu mungkin dapat mencederai hewannya. Sebagai contoh penggunaan obat pada ternak babi yang bertujuan untuk menghilangkan perlemakan pada dagingnya. Obat untuk membuat daging “lean meat” menyebabkan efek gangguan jantung pada ternaknya.

Berbahaya bagi manusia, obat hewan ilegal tidak hanya yang tidak terdaftar ettapi juga yang dilarang penggunaannya. Sebagai contoh penggunaan antibiotik Chloramphenicol yang residunya dapat bertahan lama berada di daging, telur dan susu produk ternak. Kalau produknya dikonsumsi manusia dapat menyebabkan Anemia, Blue Baby Syndrome, dan gangguan pembentukan sumsum tulang. Contoh lain penggunaan hormon Diethyl Stilbesterol (DES) pada ternak yang dapat memicu pertumbuhan kanker pada manusia.

Berbahaya mengganggu ekosistem/lingkungan. Contohnya adalah penggunaan obat supaya kapas tidak di serang oleh serangga tetapi akibatnya musnah kupu-kupu yang bertugas melakukan penyerbukan. Dampaknya pohon-pohon tidak berbuah dan berbunga. Contoh lainnya adalah terlalu banyak diberikan antibiotik pada ternak yang efeknya seperti telah dijelaskan sebelumnya berupa meningkatnya residu antibiotik pada produk hewan tersebut. Dampak lebih jauhnya adalah akibat tekanan yang tinggi, kuman menjadi resisten terhadap antibiotik golongan tersebut.

Berbahaya bagi Negara, karena mengurangi pendapatan negara karena obat hewan ilegal termasuk barang selundupan dan tidak membayar pajak bea masuk. Selain itu OH ilegal juga membahayakan pegawai Karantina dan Bea Cukai.

Berbahaya karena membohongi masyarakat, misalnya antibiotik Tetracyclin digunakan sebagai Feed Additive/Growth Promotor. Contoh lain adalah bahan baku obat hewan dijadikan obat hewan yang dikenal oleh kalangan peternak dengan istilah obat “Pure” atau murni. Padahal bahan baku obat harus diproses dahulu untuk menjadi obat hewan. Namun dengan tipu muslihat, para penjual obat hewan ilegal menawarkan obat murni atau “Pure” kepada Peternak dengan harga yang jauh lebih murah dan khasiatnya katanya jauh lebih baik. Sebenarnya kalau logika peternak mau jalan sedikit, sama saja dengan memberi makan manusia dengan beras yang belum diolah menjadi nasi.

Bagaimana mengurangi peredaran obat hewan ilegal 
Berbagai langkah bisa dilakukan oleh pihak terkait untuk mengurangi peredaran obat hewan ilegal. Adanya pengawasan oleh Kementerian Pertanian dan pemberian sanksi dan hukuman yang berat bagi pelanggar dapat memberikan efek jera bagi pelakunya.

Selain itu, Pemerintah juga harus lebih menyederhanakan proses pendaftaran obat hewan dan mempercepat pelayanan, sehingga mitos proses registrasi OH itu lambat dan susah bisa hilang pelan-pelan.

Edukasi kepada peternak juga harus terus dilakukan akan bahaya penggunaan obat hewan Ilegal, khususnya melalui peran aktif ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) dan media massa pendukung industri peternakan. Peran aktif media salah satunya dengan tidak memasang iklan obat hewan ilegal. Dan ciri khusus obat hewan bisa dikatakan ilegal adalah tidak disertai no registrasi pada etiket kemasannya. (*)


Penulis adalah
Ketua Dewan Kode Etik ASOHI